2 hari ini aku sedang membaca buku “The Death of Adolf Hitler – Kematian Adolf Hitler” yang dikarang oleh Agustinus Pambudi.
Buku yang menceritakan secara singkat (mungkin sangat singkat) sejarah hidup sang Fuehrer. Seorang yang awalnya hidup menggelandang di daerah Wina sebagai seniman gagal berubah menjadi seorang Kanselir Jerman yang memegang kekuasaan penuh, baik militer ataupun politik.
Secara lugas buku ini menggambarkan seorang Adolf Hitler yang di anugrahi kemampuan orator handal dan juga bola mata yang sangat tajam berdaya hipnotis memiliki masalah mental, rasa benci serta kesombongan rasialis yang membuat dirinya tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, hal inilah yang membuatnya menjadi seorang diktator berbahaya.
Masalah mental pencipta Mein Kampf ini semakin parah di masa-masa akhir hidupnya, frustasi dan mungkin juga ketakutan sang Hitler terhadap kekalahan dan pengkhianatan membuatnya bertindak gegabah di tengah pasukan sekutu dan Red Army yang mengepung Jerman. Sehingga ia mengungkapkan kata “Aku benar-benar di tipu dari segala sisi”.
Sang diktator ini berakhir dengan membunuh dirinya sendiri menggunakan pistol yang ditembakan langsung ke mulutnya, di dampingi istrinya yang setia Eva Braun yang lebih memilih racun daripada pistol.
Demikianlah akhir kehidupan tragis seorang diktator…
Diktator bukanlah orang yang berani, kuat ataupun tegar, ia hanyalah seorang pemimpin yang ketakutan.
Takut tahtanya di rebut orang lain, sehingga ia memberangus habis semua orang yang mungkin merebut tahta kekuasaannya.
Takut bahwa dirinya tidak di anggap, sehingga ia tidak pernah mendengarkan orang lain dan lebih mementingkan dirinya.
Takut bahwa dirinya tidak layak, sehingga ia menganggap remeh orang lain.
Takut bahwa dirinya kekurangan, sehingga ia menginginkan lebih dari pada yang seharusnya di milikinya.
Takut bahwa dirinya memiliki kesalahan, sehingga ia membenarkan semua tindakannya.
Tetapi bagaimanapun kediktatoran adalah petualangan besar yang akan runtuh dengan meminta pengorbanan dan darah.


