*Warning : Tulisan ini bukan mengajak Anda untuk memilih golput, tetapi hanya sebagai refleksi….
Judul di atas memang bukan nama 34 (atau 38 ?) partai yang akan beraksi pada pemilu 2009 nanti, tapi lebih kepada gambar karikatur salah koran yang menggambarkan beberapa orang dengan gaya visual yang khas dengan nama masing-masing partai mulai dari Partai Semua Bisa Diatur, Partai Pasti Makmur, hingga Partai Nasi Aking dan entah partai apalagi saya sudah lupa, tapi dari nama partainya saja tentu anda bisa membayangkan apa maksud dari karikatur tersebut.
Bicara tentang politik dan kekuasaan seakan tidak pernah habisnya, kedua hal ini akan selalu berhubungan, tarik menarik ibarat magnet, hingga saling tumpah tindih seperti gerakan atom yang tak berarah. Jadi bisa di bilang orang yang memiliki kekuatan politik sudah pasti memiliki kekuasaan tapi semua itu tergantung apakah kekuasaan itu digunakan dengan baik atau buruk, tetapi kebanyakan para politikus negeri ini memanfaatkannya untuk hal yang buruk, patut di sayangkan memang, oleh karena itulah Soe Hok Gie seorang idealis muda era Soekarno pernah berkata bahwa politik adalah lumpur kotor.
Sementara untuk politik di negeri ini pastinya akan selalu ada sangkut pautnya dengan partai.
Partai yang seharusnya menjadi kendaraan politik rakyat untuk menyalurkan aspirasi mereka kepada pemerintah, mungkin sudah beralih fungsi sebagai kendaraan kelompok atau mungkin perorangan untuk memperoleh kekuasaan plus kekayaan.
Karena sudah terinfeksi nafsu kekuasaan atau mungkin ingin berburu kekayaan dan kesenangan pribadi bisa saja seseorang menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh hal tersebut, jadi dengan mudahnya orang-orang ini mengucapkan janji-janji palsu mereka saat melakukan kampanye bahwa mereka berjanji akan melakukan ini dan itu, tetapi setelah terpilih mereka seakan lupa janji mereka, bahkan sampai janji-janji itu di teriakan ke telinga mereka oleh para pe-demostran yang menuntut realisasi atas janji tersebut, tetap saja mereka tuli atau mungkin (barangkali pura-pura) lupa sehingga tidak pernah merasa bersalah telah membohongi publik, sungguh aneh…
Sedangkan berita hangat mengenai perilaku partai-partai akhir-akhir ini, mulai dari “celebrity idol” yaitu menjadikan seorang selebriti sebagai anggota partai untuk calon legislatif atau jabatan pemeritahan tertentu, semoga saja para “idol” ini tidak di manfaatkan partai politik sebagai bagian dari rencana politik praktis tetapi memang terpilih karena kualitas, hingga isu “family gathering” yang menjadikan semua sanak keluarga sebagai anggota partai yang sama, yang satu ini mungkin saja karena satu keluarga memiliki idealis pemikiran yang sama.. atau mungkin ? Entahlah saya kurang tahu…
Jika benar sebuah partai memang mendukung, membela, dan menyuarakan keluhan dan tuntutan rakyat yang dibelanya, seharusnya sejak dulu sudah ada perubahan bukan malahnya kemunduran. Rakyat seakan hanya di jadikan mainan, dibutuhkan saat suara mereka digunakan untuk memenuhi quota daftar pemilih, tetapi dibuang kemudian. Seakan setelah mereka duduk di parlemen atau menjadi pejabat tertentu mereka menjadi the untouchables oleh tangan-tangan rakyat kecil.
Sudah saatnya ada partai yang benar-benar menyuarakan jeritan rakyat kecil yang semakin terdesak oleh himpitan ekonomi, yang tergusur dari rumah dan tempat usaha mereka sendiri, yang mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah, atau mereka yang untuk bertahan hidup harus mengais tempat sampah, dan mereka yang …. (pastinya anda bisa mengisi lebih banyak dari pada saya)
Jadi pilihlah Partai Nasi Aking…
Partai yang mau membela hak rakyat kecil…
Partai yang mau mendengarkan jeritan rakyat yang dibelanya…
Partai yang menyatu dan dapat disentuh oleh rakyat…
Partai yang tidak hanya menjadi milik perorangan atau golongan suku, ras, agama, dan kelompok tertentu saja…
Partai yang benar-benar mengerti penderitaan mereka yang hanya makan nasi aking hari ini…
Pilihlah Partai Nasi Aking…



Mirip proyekan lah wal hehehehe
Mujie -> bujur banar bang mujie, partai lebih mirip ajang proyek cari duit dan kekuasaan di bandingkan penyaluran suara rakyat
semua terpulang pada nawaitunya pemilih dan yang akan dipilih gak usah pakai su’udhon dan hsrus positif thinking donk