Tulisan ini saya ambil dari milis dengan penulis JJ Kusni, ku masukan ke blog ini mungkin karena tulisan ini sangat ‘mengena’. Berikut profil singkat mengenai JJ Kusni yang saya kutip dari kalteng.net :
Salah seorang intelektual yang berasal dari Kalteng, sekarang berada (atau “terdampar”) dan menjadi warga negara Perancis karena kejadian politik.
Saya merasa tulisan ini bisa membuka pemikiran baru mengenai orang ‘terbuang’ dari negeri ini, mungkin bukan kehendak namun hanya terpaksa.
JURNAL TODDOPULI: KAMI TIDAK LARI
[Tuturan Untuk Ken Prita SJK dan Anak-anakku]Pernah pada suatu saat aku kirimkan ke milis panyingkul berita tentang larinya dan bekerjanya para ahli berbagai bidang warga negara Indonesia ke mancanegara. Dalam istilah menterengnya disebut brain drain. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya brain drain. Antara lain faktor politik, ekonomi dan kemudian adanya chasseurs de tête [pengejar orang berkepala atau berotak] , sebuah lembaga yang bekerja khusus memburu tenaga-tenaga ahli untuk bekerja di luar negeri mereka sendiri — tentu dengan tawaran imbalan yang jauh lebih tinggi dari di tanahair mereka sendiri.
Mendidik tenaga ahli, bukanlah usaha yang murah jika dilhat dari segi beaya. Bukan pula waktu yang singkat. Sehingga jika terjadi brain drain, maka yang paling rugi adalah negeri asal para ahli itu sendiri. Sedangkan negeri yang menggunakan dan mempekerjakan tenaga-tenaga ahli tersebut hanya menggunakan barang jadi tanpa usah membeayai pembentukan dan pembinaannya. Dengan tujuan inilah maka Perancis pada masa kekuasaan Presiden Nicolas Sarkozy sekarang menterapkan politik “imigrasi terpilih” [l'immigration séléctive] dengan maksud menyerap tenaga-tenaga ahli dari luar untuk kepentingan Perancis. Brain drain agaknya seperti penyelenggara negara tidak hirau — untuk tidak mengatakan tidak menghargai — akan makna para ahli sendiri guna membangun bangsa dan negeri. Sebagai contoh, aku ambil pengalamanku sendiri tahun lalu. Tahun 2007. Aku mendapat pos mengajar di dua universitas beken di Bandung dan tempat lain. Dengan contoh diri sendiri, tak ada
sama sekali maksudku mengatakan bahwa aku seorang tenaga ahli. Paling-paling, aku mempunyai jenjang pendidikan yang layak menjadi guru kecil di universitas di mana pun di dunia ini. Yang mengagetkan aku adalah bahwa tenagaku hanya dihargai Rp. 75.000/jam mengajar. Di universitas lain aku dibayar 1 juta/ bulan. Jumlah yang jauh lebih kecil dari honorarium untuk sebuah artikelku di Indonesia.“Apa dengan bayaran demikian aku bisa hidup?” tanyaku.
“Rp.75.000/jam mengajar itu sudah tinggi, lho”, jawab dekan yang menerimaku. Aku hanya terdiam melihat bagaimana Indonesia mengharga para guru. Apabila kita menghitung mengajar satu jam , ditambah denga persiapan sendiri mengajar minimal satu jam, berarti, jerih payahku mengajar hanya dihargai Rp.37, 500/jam.
Kepada sang dekan, kukatakan : “Beginikah negeri ini menghargai para pengajar?”.
“Ya”, jawabnya. “Karena itu seorang dosen mengajar di beberapa universitas atau membuka usaha lain”.
“Apa Anda tidak melihat bahwa dunia pendidikan merupakan soal kunci bagi pembangunan dan esok negeri?”,tanyaku sambil menahan jengkel, membandingkan berapa penghasilan kuperoleh dari mengajar dan menulis.
“Inilah Indonesia. Anda mau dihargai demikian, Anda putuskan”, jawab sang dekan.
“Ya, Anda dalam posisi di atas angin, sedangkan aku mau hidup juga”, jawabku mengakhiri percakapan dan minta diri bersama rasa pemberontakan dalam hati. Apalagi jika kubandingkan jenjang pendidikan yang ia miliki jauh tidak sebanding dengan yang kusandang. Tapi kekuasaan dan kekuasaan mempunyai bobot tersendiri. Barangkali aku yang sakit, bukan dunia pendidikan dan pilihan politik negeri yang dijelmakan menjadi sistem. Aku merasa diriku sebagai seorang pemberontak yang kalah, melihat sayap-sayap mimpinya dan dadanya yang tak henti dari gelora harapan berdarah-darah ditembak kenyataan dan mencoba dengan sisa tenaga untuk terus mengepak mencari ufuk. Apa yang kualami ini kembali membuka mataku bahwa dengan meminjam istilah Shakespeare dalam deama Hamlet-nya “there is something rotten in the State of Denmark” bernama “the State of education” di negeri kita.
Di Koperasi Restoran Indonesia “SCOP Fraternité” yang terletak di kilometer nol, jantung ibukota Perancis, aku sering bertemu dengan para ahli berbagai bidang dari Indonesia yang bekerja di manca negara. Walau pun masalah brain drain Indonesia ini sebenarnya merupakan suatu persoalan menarik yang kiranya layak menjadi perhatian penyelenggara negara, tapi di sini aku ingin menuturkan soal lain yaitu tentang tentang mereka yang dikirim oleh pemerintahan Soekarno untuk belajar ke luar negeri dan kemudian menjadi tenaga-tenaga ahli dengan kaliber yang tidak rendah dibandingkan dengan tenaga ahli negeri mana pun. Apakah mereka yang akan kututurkan ini termasuk kelompok brain drain? Bisa ya bisa tidak. Ya jika dilihat dari segi ia digunakan oleh negeri asing, tapi tidak jika dilihat dari sebabnya. Mereka bekerja di negeri orang dan digunakan oleh negeri orang, karena mereka tak diterima pulang oleh penyelenggara negara dengan alasan politik, praduga politik
yang konyol pada masa Orde Baru. Sekonyol rezim ini dulu memperlakukan bahasa Mandirin sebagai bahasa terlarang dan “subversif”.Ada seorang teman asal Bali, teman lamaku juga. Ia dikirim keluar negeri oleh Presiden Soekarno untuk belajar soal atom. Ia tak bisa pulang ke tanahair karena paspornya dicabut Orba ketika ia diminta mengutuk Presiden Soekarno se melestusnya Tragedi Nasional G30S. Ia menolak. Setelah sekolahnya selesai, ia bekerja universitas di mana ia pernah belajar dari sering mewakli negeri itu menghadiri pertemuan-pertemuan internasional mengenai soal atom dan nuklir. Hal demikian pun terjadi dengan seorang Indonesia dari Yogyakarta dan meminta suaka di Swedia. Sebagai ilustrasi, aku kisahkan di sini bahwa salah seorang pemain volley ball pada Tim Nasional Sewedia terdapat seorang anak Indonesia.
Dalam penelitian kangker terdapat dua anak Indonesia yang terkemuka di gelanggang internasional. Nama salah seorang mereka tertera di ensiklopedia kedokteran. Salah seorang di antara mereka pernah mencoba kembali ke Indonesia pada masa Orba Soeharto, untuk menyumbangkan tenaga dan kemampuannya untuk tanahair. Tapi dengan alasan politik “tidak bersih lingkungan” , niat ini tidak terwujud. Setelah meninggalkan Jerman, kemudian ia pergi ke Washington, Amerika Serikat. Amerika Serikat dengan senang hati memanfaatkan tenaga sudah tinggal pakai , berpengalaman dan bertaraf ini. Sedangkan ahli kangker yang lain masih berada di Jerman.
Kau tahu sputnik, pesawat ruang angkasa Uni Soviet — waktu itu masih bernama demikian sebelum kehancurannya. Dalam meluncurkan pesawat ruang angkasa ini tercatat jasa seorang anak Indonesia yang ahli cahaya. Pemerintah Soviet menawarkan imbalan apa saja kepadanya, asal ia mau bertahan di Soviet. Tapi ia memilih keluar. Entah ke mana. Aku sudah kehilangan jejaknya, sebagaimana aku banyak kehilangan jejak teman-teman lain yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi mereka dan tetap terhalang pulang.
Ada pun mengenai jumlah insinyur [listrik, perkapalan, traktor, bangunan], dokter medikal , apalagi sarjana-sarjana tingkat S3 dalam ilmu sosial, jumlahnya pun tidak sedikit. Mereka tersebar di berbagai benua, sampai ada yang di tengah-tengah gemuruh desing peluru pertempuan di Palestina menghadapi serangan Israel. Negeri-negeri asing jugalah yang memanfaatkan tenaga siap pakai itu. Mereka adalah orang-orang yang dikirimkan untuk belajar oleh pemerintah Presiden Soekarno guna melaksanakan pembangunan Indonesia modern. Sarjana yang terampil dan berwawasan. Habibie termasuk salah seorang dari mereka.
Salah satu kerugian yang menyertai Tragedi Nasional September 1965 adalah hilangnya barisan cendekiawan terampil dan berwawasan seperti juga yang menimpa Repbulik Rakyat Tiongkok [RRT] pada masa Revolusi Besar Kebudayaan Proletar [Wen Hua Da Qe Min] tahun 66an. Barangkali bedanya , RRT bisa cepat menarik pelajaran dari pengalaman mereka. Sedang kita, penyelenggara negara, termasuk yang kurang gubris dan sulit menarik pelajaran dari kekeliruan sehingga belum berani memanggil pulang kembali anak-anak negeri pulang kembali tanpa syarat. Kalau dimintakan syarat: Berjanji setia pada bangsa negeri danRI, siapa gerangan yang nyata-nyata perlu dipertanyakan setianya?
Tenaga-tenaga berpendidikan tinggi, berkeramilan bertaraf internasional ini bukannya tidak mamu pulang.Beberapa di antara mereka nekad pulang dan kemudian sempat masuk rumah tanahan semata-mata karena dikirim belajar ke luar negeri oleh pemerintah Soekarno yang dijuluki Orde Lama. Cinta tanahair, nilai republiken dan berkeindonesiaan? Dalam hal ini anak bangsa dan negeri boleh bersaing mengejawant ahkannya sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pengusaha dari etnis Tionghoa yang kebetulan duduk di sampingku dalam penerbangan Singapura-Jakarta.
Mereka yang dikirim oleh pemerinta Soekarno , di luar negeri dikenal sebagai wahid [mahasiswa ikatan dinas] bukan tidak mau pulang, tapi dihalang pulang. Mereka tidak lari. Mereka ingin kembali. Dan tentu kembali bukan untuk mati tapi membayar hutang moral dengan sisa usia yang ada. Bisakah keadaan ini disebut sebagai brain drain unik yang dialami oleh bangsa dan negeri kita dalam usaha menjadi Republik dan Indonesia?
Aku ingin, kau tak merahasiakan sejarah kepada anak-anak. Tuturkan putih sebagai putih, katakan hitam sebagai hitam, agar mereka tahu apa siapa dan bagaimana wajah mereka. Jangan dusta. Tak perlu malu pada kebopengan. Aku masih melihat di negeri ini masih ada manusia. Betapa pun runyamnya keadaan yang kita hadapi ditambah oleh keterbatasan daya berpikir dan hilang orientasi sebagai tinggalan hitam suatu kurun sejarah , betapa parut-parut luka masih tertanda di parit-parit dahi, dada dan sayapku sebagai seekor enggang terbuang dari rimbanya, aku masih melihat bahwa negeri ini masih merupakan tempat di mana kita tetap bisa berharap. Aku bukan orang yang lari. Kami tidak lari. Indonesia yang telah membuang putera-puterinya sendiri. Tidak jeli memanfaatkan apa yang ia punya untuk menjadikan tanahair sebagai tempat hidup manusiawi anak manusia. Anak bangsa dan negeri. Terkesan Indonesia tak lain dari barang dagangan.***
Di Perjalanan Pulang, Musim Gugur 2008
———— ——— ——— ——— ——— ———
JJ. Kusni


