Feeds:
Tulisan
Komentar

genggaman…

so take my hand, and say it's not forever....

apa pun yang ku genggam selama ini, ada beberapa hal yang tidak mudah untuk ku lepaskan…
seharusnya ku belajar untuk tidak terlalu keras mengenggamnya, karena aku tahu jika apa yang ku genggam tersebut hilang, rasanya akan sakit sekali…
ada satu kata yang begitu mengena “selama engkau menggengam sesuatu terlalu keras, Tuhan tidak akan bisa memberikan yang lebih baik”…

pernahkah ada saat-saat tertentu ketika hanya satu bayangan yang mengisi kepala mu, dan yang kau rasakan hanya perasaan menekan di hati mu…
perasaan ingin mengubah semua cerita yang ada, tetapi kau tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukannya, tapi kau tetap berusaha menggengamnya dengan hati mu…

melihat orang-orang dari masa lalu mu dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi…
sementara di sini aku tetap merasa sama, tidak ada yang berubah, aku dan masa lalu ku seakan tetap sama…
hanya ada satu pertanyaan yang muncul kemudian…

“ah, kenapa aku begitu erat menggengam bayangan masa lalu ku…

*00:11 – dark night without The Light …

apa…

malam gelap jiwa

Sebenarnya apa yang Kau inginkan dari semua ini…
Dari rasa ‘kesendirian’,  ‘kesepian’,  dan ‘kekosongan’ ini…
Apa yang Kau tunggu? Apa yang ku tunggu?
Sampai kapan ini?

malam gelap jiwa

dark night of the soul…


siapapun juga tahu…

dream

Judul thread di atas sebenarnya aku ambil dari lagu dewi “dee” lestari malaikat juga tahu, tapi malaikat-nya aku ganti siapapun ;) . Memang siapapun tahu seseorang memiliki batas kesabaran dan kebosanan, dan kebetulan aku sekarang berada di ambang kebosanan yang benar-benar bosan.

mati ide, buntu, hilangnya idealisme dan rasa ingin tahu, mati rasa, aku stuck di kebosanan ini…

bahkan untuk menulis posting-an ini pun aku harus memaksa kan diri, memaksa otak ini bekerja.

——————————————————————————————-

mimpi…
setelah di pikirkan di renungan kan dengan seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya (nggak penting), ternyata apa yang aku mimpikan semenjak kecil hingga sekarang selalu berubah-ubah. Ibaratnya segi tiga yang terbalik kira-kira seperti itu, semakin tua apa yang menjadi mimpi kita akan menjadi sebuah mimpi kecil, mimpi yang hanya di dasarkan kepada keadaan dan realita yang kita hadapi sekarang. Berbeda sekali ketika kita masih kecil, kita bisa bermimpi menjadi apa saja yang kita mau tanpa merasakan beban perasaan bahwa yang kita mimpikan itu tidak mungkin, mimpi tanpa melihat realita yang ada, mimpi polos anak-anak.

mengingat waktu kecil, aku bermimpi menjadi seorang detektif. Tergila-gila akan misteri dan juga kebanyakan membaca buku-buku seperti lima sekawan, trio detektif, kalle blomkvist, etc. Impian yang aneh, mengawasi semua hal dengan keingintahuan, melihat dengan teliti dan menganalisis semuanya, tentu saja dengan daya pikir seorang anak kecil :) .

masa smp, aku bermimpi menjadi seorang game maker. Ini gara-gara terlalu sering bermain game terutama game ber-genre RPG (Role playing games) seperti Final Fantasy, Chrono Cross, Breath of fire, etc, hingga akhirnya RO. Bermain game kira-kira lebih dari 8 jam perhari. Walaupun tidak pernah mengerti bagaimana membuat sebuah game itu, tetap saja aku mimpikan. Mulai dengan membuat story sendiri dengan tokoh-tokoh hero dan monster-monster yang akan mengisi sebuah game RPG.
Baru sadar, ketika kuliah dan mengenal code, ternyata untuk membuat game itu sangat susah dan kompleks. Bahkan untuk membuat game RPG sekelas final fantasy saja memerlukan waktu bertahun-tahun dan di kerjakan oleh banyak orang.

Awal hingga pertengahan masa-masa kuliah, aku pernah bermimpi menjadi ‘itu’. Mungkin ini bisa di bilang setengah mimpi setengah lagi obsesi kegilaan. Melangkah ke arah mimpi ‘itu’ dan hingga hampir pertengahan jalan. Tiba-tiba saja aku merasa sendiri di jalanan ‘itu’, merasa menjadi seorang lone fighter. Dan akhirnya aku berhenti untuk mengejar kegilaan ‘itu’, meskipun apa yang ku peroleh dari pengejaran mimpi ‘itu’ masih tersisa di otak ini dan tak mungkin hilang.

Dan sekarang aku memiliki mimpi untuk b2w (bike to work), setiap weekend jalan-jalan sendiri mencari objek buat di foto pakai kamera DSLR, tentu saja ini adalah impian ku ketika lulus nanti.

Hanya itu mimpi yang berada di kepala ku sekarang. Aku hanya seorang pria sederhana yang hidupnya ‘kebanyakan’ berjalan dengan datar.

Semua orang juga tahu, kita harus mengejar mimpi kita. Dan aku rindu untuk mengejar mimpi ku dengan perasaan polos seorang anak kecil. Perasaan seakan semua mimpi itu bisa ku raih tanpa rasa takut.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »