Feeds:
Tulisan
Komentar

Malam Gelap Jiwa….

Ditengah kesibukan nggak penting akhir-akhir ini, aku menyempatkan membaca beberapa artikel baik dari forum-forum ataupun tulisan personal yang mungkin sangat jarang dibahas, ataupun di baca oleh orang, dan ini bukanlah bacaan yang mudah, aku sendiri  kesulitan untuk memahaminya.
Tapi entah mengapa aku ingin menulis tentang hal ini, dan karena aku bukanlah orang yang mempelajari ilmu-ilmu theologi apalagi seorang mistikus, dan juga bukan seorang rohaniawan, mungkin ini cuma terlihat sebagai sebuah rangkuman dari apa yang kubaca saja.

Malam Gelap Jiwa atau Malam Kelam Bagi Jiwa atau masa-masa kering jiwa, yang dalam dalam bahasa Inggris nya lebih di kenal dengan Dark Night of The Soul (bahasa spanyol: La noche oscura del alma) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah fase dalam kehidupan spiritual seseorang. Istilah tersebut digunakan sebagai gambaran untuk mendeskripsikan perasaan sepi dan keterasingan yang dapat muncul dalam pengalaman batin atau pertumbuhan spiritual seseorang.

Istilah dan metafisikalitas dari frase tersebut diambil dari tulisan-tulisan penyair Spanyol, yang juga mistisis Katolik Roma: St. John of The Cross, seorang imam carmelite abad 16. Dark Night Of the Soul adalah judul kumpulan puisi dan komentar mengenai puisi tersebut. Tulisan itu berisi perkembangan mistis dan tahapan yang dilaluinya dalam pencarian akan kesucian.

Pada umumnya pengalaman ‘malam gelap’ merupakan pengalaman yang benar-benar ‘menakutkan’ dan sering kali dihindari karena ini adalah penderitaan jiwa yang kelam,  sebab itulah kenapa disebut ‘gelap’.

Pengalaman ketika kita benar-benar mencari wajah Tuhan, tetapi yang kita temukan hanya kegelapan, kesepian dan kesendirian, seakan-akan Tuhan tidak pernah menghadapkan wajah-Nya kepada kita. Pada tahapan ini seseorang sering kali mengalami “crisis of faith”.

‘Malam gelap’ ini akan membawa rasa keterasingan dan kekosongan bagi jiwa. Ketika anda melihat dengan mudahnya orang-orang menemukan cahaya anugerah dari Tuhan, sedangkan anda bahkan dengan usaha yang sangat keras pun hanya mendapati kegelapan, kesunyian dan kesendirian. Seakan-akan ada suatu penghalang yang memisahkan kita untuk bisa merasakan hadirat Tuhan dalam jiwa dan hidup kita.

Dalam tradisi kristen, selama ‘malam gelap’, seseorang yang memiliki kehidupan doa yang kuat dan hubungan yang konsisten kepada Tuhan, tiba-tiba menemukan bahwa doa-doa tradisional tersebut sulit untuk dilakukan dan terasa sia-sia untuk waktu yang panjang. Individu tersebut mungkin merasa seolah-olah Tuhan tiba-tiba mengabaikan mereka, atau kehidupan doa mereka telah hancur. Fase yang kelam ini bahkan cenderung untuk membuat seseorang untuk menjadi atheis, karena fase ini khususnya dalam kekristenan, ‘malam gelap’ dilihat sebagai salah satu ujian terberat bagi iman seseorang.

Dari beberapa artikel yang aku baca, selain St. Yohanes dari Salib, yang mengalami fase ‘malam gelap’ ini dan menuangkannya pengalamannya dalam syair-syair puisi yang dibuatnya, sosok Mother Teresa pun mengalami hal yang sama. Melalui bukunya Mother Teresa: Come Be My Light yang sempat di perdebatkan di antara kalangan atheis dan orang ‘beragama’, Mother Teresa pun menuangkan perasaan ‘malam gelap’ nya.

“Aku diberitahu bahwa Allah hidup didalam aku — namun realitas dari kegelapan dan kedinginan dan kekosongan begitu dalam sehingga tidak ada apapun yang menyentuh jiwaku.”

“Aku ingin Allah dengan semua kekuatan jiwaku — namun diantara kita ada keterpisahan yang mengerikan.”

“Aku merasakan kesakitan akan kehilangan yang begitu mengerikan, [yaitu] akan Allah yang tidak menginginkaku, akan Allah tidak sebagai Allah, akan Allah tidak benar-benar ada”

Pernyataan-pernyataan seperti di atas kadang mengejutkan dan seakan-akan menguji keimanan kita, seorang yang seumur hidupnya mengabdikan hidupnya untuk Kasih pun mempertanyakan keimanannya. Oleh karena itu sebelum buku ini diterbitkan ada ’sedikit’ perdebatan di kalangan Vatikan. Pada akhirnya buku yang berisi surat-surat Mother Teresa kepada pembimbing rohaninya ini pun tetap diterbitkan, karena dibalik semuanya itu kita bisa menemukan makna dari Kebenaran sesungguhnya.

Seorang Protestant terkenal juga menyadari kebenaran yang sama. Namanya adalah Clive Staple Lewis atau C.S. Lewis (pengarang Narnia). Lewis mengungkapkan pemahamannya akan masa kekeringan ini dalam karyanya yang sangat unik dan ingenious, The Screwtape Letters. Novel ini berisi surat menyurat antara seorang setan kecil (Wormwood) dengan setan senior, Screwtape, yang adalah bos dan juga paman dari Wormwood. Wormwood bertugas untuk menyesatkan manusia di dunia. Dalam melakukan tugasnya Wormwood sering kehabisan akal dan meminta petunjuk kepada sang bos yang lebih ahli dalam menjerumuskan manusia ke lobang kebinasaan. Berikut nasehat dari sang bos:

Jangan tertipu, Wormwood. Tujuan kita tidak pernah terasa lebih membahayakan dibanding ketika seorang manusia, tidak lagi menginginkan, tapi masih berniat, untuk melakukan kehendak Musuh kita, melihat semesta dimana tiap jejak dariNya sepertinya telah hilang, dan bertanya mengapa dia telah ditinggalkan, dan tetap mematuhi“.

SURAT-SURAT SCREWTAPE, bab. VIII

Mungkin bahasa Inggris abad 19 agak membingungkan. Pada dasarnya, sang bos, Screwtape, mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berbahaya bagi pencapaian tujuan para iblis dibanding ketika seorang manusia masih melakukan kehendak musuh mereka (ie. Allah) padahal si manusia tidak menginginkan untuk melakukannya. Juga ketika seorang manusia yang tidak merasakan Allah di semesta ini dan merasa ditinggalkan, tetap mematuhi kehendakNya.

Selain itu, aku juga menemukan pembahasan fase ‘malam gelap’ ini dalam buku The Purpose Driven Life. Pada bab 14 – Ketika Allah Terasa Jauh, yang menyebutkan:

Mudah untuk menyembah Allah pada saat segala sesuatu berjalan baik dalam kehidupan Anda, yakni pada saat Dia menyediakan makanan, teman, keluarga, kesehatan dan situasi-situasi yang bahagia. tetapi keadaan tidak selalu menyenangkan. Lalu bagaimana Anda menyembah Allah waktu keadaan tidak menyenangkan? Apa yang Anda lakukan ketika Allah terasa jutaan mil jauhnya?

Selain dari karya-karya yang dituangkan dalam syair-syair puisi dan buku, aku pun menemukan beberapa gambaran tentang peristiwa ‘malam gelap’ ini dalam lirik-lirik lagu, seperti dari lagu-lagu U2 “With or without You” ataupun “I still haven’t found what I’m looking for” yang menggambarkan rasa keputusasaan dan ratapan tapi tetap bergantung pada-Nya.

…….
We made fire from the flame
You put out our wicked games
All we wanted was to be close to You
……………
But You’re always in control pulling strings over our souls
though we have we’re never alone now
but how do i find out, a way to say what i have to say
…………….
So please
please tell me what i need
I’m asking please
oh please
tell me what i need to believe
………
If we’re here for a reason
than the reason is ours to know
but to say that it’s better to not know and together
we keep living on and weather the storm

Diatas adalah potongan lirik dari seorang penyanyi favorit ku (maaf tidak bisa menyebutkan nama), yang pada liriknya menggambarkan bahwa kita tidak pernah ‘ditinggalkan sendiri’, tapi entah mengapa kita merasakan ‘kesendirian’ itu, dan meskipun kita tidak pernah mengerti, kita tetap memilih percaya bahwa kita tidak ’sendiri’.

————————————————————————————————

Bukannya dianggap sebagai kejadian negatif, ‘malam gelap’ dipercaya oleh para mistik sebagai berkat tersembunyi, dimana individu dilatih untuk tumbuh dari doa suara dan doa mental, menuju doa kontemplasi jiwa yang lebih dalam. Disebutkan jika anda benar-benar mencari Tuhan bukan mencari suatu ‘pengalaman’ saja, fase ini adalah fase penting, karena di dalam ‘kegelapan’ bagaikan inisiasi yang memberikan kesadaran yang lebih tinggi.

Menemukan Tuhan di dalam kesendirian dan ‘malam gelap’ bisa jadi merupakan saat-saat yang berat. Tapi bagi orang-orang yang mengalaminya dan tetap bertahan, mereka mengerti bahwa kesendirian dan perasaan terisolasi dari hadirat Tuhan, merupakan satu langkah spiritual untuk hubungan kita dengan Tuhan yang lebih dekat. Dan mereka juga tahu, rasa sakit, bersalah, dan kesendirian jiwa pada ‘malam gelap’ adalah pernyataan bahwa kasih Allah tetap untuk selamanya.

(Diambil dari berbagai sumber, dan digerakkan untuk menulis ditengah pagi buta tanpa di ketahui sebabnya) Via Multiply.

loneliness…

loneliness

loneliness

Kemarin baru saja mengisi quiz di salah satu jejaringan sosial, bukan apa-apa hanya sekedar iseng mengisi rasa bosan yang terus mengelilingi hidup ku akhir-akhir ini. Sekedar quiz asal dengan pertanyaan “apakah yang anda sembunyikan dari orang lain”, tahu kah hasil dari quiz asal tersebut, sebuah kata yang menyentak hati ku, sebuah kata “loneliness“.

Entah mengapa kata tersebut begitu menganggu saat itu. Kesendirian, kesepian, entah sudah berapa lama aku merasakannya, mungkin sudah bertahun-tahun. Bahkan ketika aku berada di sekitar banyak orang, di antara teman-teman, di antara mereka yang sedang bercanda atau tertawa, di sudut hati ini masih ada rasa itu, rasa kesendirian, seakan-akan ada celah di hati ini yang kosong.

Dan di tahun-tahun terakhir masa kuliah ini, entah mengapa perasaan ini begitu menekan ku. Aku merasa takut ditinggalkan sendiri, takut ketika kesendirian itu membunuh perasaan ku seperti dulu lagi.

Kesendirian lah yang mungkin menyebabkan semakin besarnya rasa sakit hati ku dulu, sehingga aku tidak ambil peduli dengan orang lain dan tidak ingin dekat dengan orang lain. Ketika aku memberikan batas lingkaran yang lebar bagi orang lain, batas yang hanya jika aku ingin mengulurkan tangan ku saja, aku bisa menyentuh orang lain. Selain itu, aku berada dalam kesendirian di dalam lingkaran yang ku ciptakan sendiri.

Kau tahu, aku sungguh menyesal telah menciptakan lingkaran itu. Mungkin banyak orang baik itu keluarga, teman, orang-orang yang mencoba untuk dekat dengan ku, merasa sakit hati karena sikap ku.

aku sungguh menyesal….

Untuk beberapa beberapa peristiwa dan beberapa orang dalam hidupku, sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki semuanya, karena peristiwa itu mungkin hanya terjadi sekali dan orang-orang tersebut benar-benar telah pergi.

karena itu aku minta maaf….

Mungkin aku akan mengurangi intensitas ku untuk selalu online di jejaringan sosial itu, karena aku sadar selain banyak menyita waktu yang tidak perlu, juga menyita sisi hati ku untuk seseorang yang tanpa ku sadari setiap hari ku buka profile-nya walaupun aku terlalu enggan untuk menyapanya lagi, sebagiannya juga menambah rasa kesepian di hati dan perasaan di tinggalkan, aku tak tahu kenapa rasa itu ada, yang ku tahu aku benar-benar merasakannya.

Dan ketika aku menulis posting-an ini, tanpa sengaja aku menemukan artikel menarik ketika aku mencari gambar untuk tulisan ku kali ini. Seakan-akan tulisan di artikel tersebut sengaja di berikan untuk menjawab pertanyaan ku akan semua rasa kesendirian ini.

Finding God in loneliness can be hard at times.
………………………………………………………………
Loneliness is a tough part of life and a hurting of the soul. A recent study suggests that people who are lonely, who feel disconnected to society, look to God for solace, friendship, and companionship. Perhaps they understand that loneliness and isolation will come to us all one day. Perhaps lonely people are one spiritual step ahead of the crowd, because they understand that in the end it’s our relationship with God that will eternally matter. And perhaps they know, in the midst of their hurt, disappointment, and loneliness that only God’s love endures forever.
……………………………………………………………….
In the midst of our busy, stressful lives, we should set aside sometime to be lonely – lonely and looking for God. Our loneliness can lead to faithfulness in a sacred way that only the lonely understand. Their loneliness can become a gift from a loving God, for better than others, they know that He will never abandon nor forsake them, nor will He ever stop loving them or let them go.

Karena itu Bapa, jangan biarkan aku jatuh lagi…
Dengarkanlah tangisan dari jiwa yang kesepian ini…
Ku istirahat kan jiwa ku yang lelah ini hanya di dalam naungan sayap Mu…

genggaman…

so take my hand, and say it's not forever....

apa pun yang ku genggam selama ini, ada beberapa hal yang tidak mudah untuk ku lepaskan…
seharusnya ku belajar untuk tidak terlalu keras mengenggamnya, karena aku tahu jika apa yang ku genggam tersebut hilang, rasanya akan sakit sekali…
ada satu kata yang begitu mengena “selama engkau menggengam sesuatu terlalu keras, Tuhan tidak akan bisa memberikan yang lebih baik”…

pernahkah ada saat-saat tertentu ketika hanya satu bayangan yang mengisi kepala mu, dan yang kau rasakan hanya perasaan menekan di hati mu…
perasaan ingin mengubah semua cerita yang ada, tetapi kau tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukannya, tapi kau tetap berusaha menggengamnya dengan hati mu…

melihat orang-orang dari masa lalu mu dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi…
sementara di sini aku tetap merasa sama, tidak ada yang berubah, aku dan masa lalu ku seakan tetap sama…
hanya ada satu pertanyaan yang muncul kemudian…

“ah, kenapa aku begitu erat menggengam bayangan masa lalu ku…

*00:11 – dark night without The Light …

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »